Aku pertegas bahwaaku mengendus kuatkuat aroma itu. Bokep SMA Kalau potong rambutya masuk ke tukang pangkas di pasar. Kesempatan tidak akan datangdua kali. Tetapi,bayangan itu terganggu. Aku masih mematung. Membuka celanaku danbajuku lalu gantung di kapstok. Ini garagara ibukumenyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Kring..! Di mana? Bodoh, bodoh, bodoh. Ke bawah lagi: Turun. Karena itulah, tidakakan hadir kesempatan ketiga. Lho, salon kan tempat umum. Creambath? Wanita muda itu mengikuti di belakang.Kemudian menyerahkan celana pantai.Mbak Wien, pasien menunggu, katanya.Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Aku tidak berpakaian kini. Aku menyesal mengutuk ibu ketikapergi. Begini saja daripada repotrepot.Anggap saja tiaptiap baju sama dengan jumlah kancingbajuku: Tujuh. Pletak, pletok,sepatunya berbunyi memecah sunyi. Akudipermainkan seperti anak bayi.Selesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Ia membuncah ketika aku melumat klitorisnya.Lalu mengangkang.Aku sudah tak tahan, ayo dong..! Keberuntungankah? ujarnya.Aku makin bersemangat, makin membara, makinterbakar.




















