Ya nggak apa-apa,” katanya menjawab telepon.“Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.“Si Nina, yang tadi. Bokep Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu,” kata Wien.Setelah beberapa lama menyodoknya, “Terus dong Yang. Ia tidak lagi dingin dan ketus. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Sial. Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokan depan, kurang lebih 100 meter lagi. Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu,” kata Wien.Setelah beberapa lama menyodoknya, “Terus dong Yang. Tamat.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Oh.., aku hanya dapat menunduk, melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari di ruangan sempit itu. Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuil tempat duduk.“Terima kasih,” ujarnya ringan.Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkan lagi, sehingga tidak perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar sehingga terlihat garis




















