Ya, payudaranya. Bokep Dada itu benar-benar lembut. Matanya yang bulat besar memantulkan kilatan cahaya neon di luar bus.Dia memandang ke bawah tubuhku.“Kasihan ya,…” senyumnya menunjuk ke “adikku”. Kudengar dia sibuk dengan anaknya, sambil bicara dengan suaminya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa antara aku dan dia. Aku menurut. Oh, mereka mau turun.“Mas, duluan, mas …,” kata suaminya ramah, ditimpali ibu itu. Aku terus menggerakkan jariku. Dan itu membuatku melayang.Tanganku juga tidak mau kalah, seperti mempunyai mata sendiri yang bergerak mencari sasarannya. Aku menggeser-geserkan kakiku agar kaki anak itu tidak menekan celanaku. Naik turun. Kalau saja ….Aku memandang ke samping. Apabila dililhat dari jauh, seperti orang yang tangannya kedinginan karena AC. Aku hanya menutupnya kembali dengan sweater. Memejamkan mata.Lama sekali. Naik turun. Terus ke bawah, dan kutemukan apa yang kucari. Dan dia tidak kaget, kali ini penisku sudah tegak menjulang, keluar dari celana.




















