Mbak Wien sudah turun. Bokep SMA Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Aku menurut saja. Aku tiduran sambil baca majalah yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu. Karena itulah, tidak akan hadir kesempatan ketiga. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Bicara apa? Hah..? Bergantian Wien kini telentang.“Pijit saya Mas..!” katanya melenguh.Kujilati payudaranya, ia melenguh. Aku mengurungkan niatku. Eh bisa juga wanita setengah baya ini ramah kepadaku.Lalu ia membersihkan pahaku sebelah kiri, ke pangkal paha. Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Ia berlutut mengelap paha bagian belakang. Kali ini dengan telapak tangan. Ah segar. Ia malah melengos. Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokan depan, kurang lebih 100 meter lagi.




















