Darah seketika muncrat ke mana-mana. Bokep Indonesia Sehabis menikmati dunia, anak-anak itu berpencar lagi, termasuk anak laki-laki yang kembali ke dekat tiang lampu merah. Dua jam berlalu, baru satu pengendara yang berhasil membeli kantong plastiknya. Beberapa di antara mereka malah lebih menakutkan daripada hantu-hantu yang bergentayangan di rumah-rumah tua. Beberapa orang lainnya menghakimi supir mobil, menghajarnya hingga biru-biru, termasuk mobilnya yang dibikin tambah penyok. Aih, kalimat ini mengingatkanku pada Hujan Bulan Juni milik Sapardi. Perempuan yang mengenakan jas hujan itu masuk, meninggalkan lelaki yang tadi. “Sudah dapat banyak?”
“Belum. Dia benar-benat ulet. Tidak cukup lama, orang-orang sudah berkerumun ke arah anak itu. Dia terpelanting. Dingin kota ini makin terasa. Ketika matahari bersinar, aku menggosong. Atau seorang lelaki berjaket jins yang memayungi seorang perempuan yang jelas-jelas memakai jas hujan. “Woi!” teriak salah satu anak dari gerombolan itu dengan kasar. Tidak tampak rasa takut dalam dirinya. Seperti biasa, aku berdiri di tempat ini, di dekat tiang nama jalan yang bertuliskan Jalan Merdeka Raya.










