Kini aku tak peduli lagi bahwa lelaki itu adalah dosen yang aku hormati. Seluruh wajahku terasa panas, kedua kakikupun terasa gemetar.Pak Hr seperti diberi kesempatan emas. Bokepindo Sungguh aku tak tahan lagi mengalamai siksaan birahi yang dilancarkan Pak Hr. Aku sempat terlelap sesudahnya beberapa jam sebelum membersihkan diri dan pulang. Tanpa melepaskan kedua belah kakiku, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Aku hampir sesak nafas dibuatnya. Kini aku tak peduli lagi bahwa lelaki itu adalah dosen yang aku hormati. “Masuklah Winda…”. Pak Hr menyetubuhi aku dengan cara itu. “Tau nih, aku mau minta ujian susulan, sudah dua kali aku minta diundur terus, kenapa ya?”. Sementara bibirnya tak hentinya melumat bibir, tengkuk dan leherku, tangannya selalu meremas-remas payudaraku. Mungkin hanya akulah yang hari Minggu masih berjalan sambil membawa tas hendak kuliah. Tubuh lelaki tua itu bergetar hebat di atas tubuhku.




















