Kepalanya jatuh tepat di sisi trotoar. “Terima kasih banyak, Pak. Bokep Indo Baru satu orang yang beli.”
“Ya sudah. Dari balik kaca mobil, seorang lelaki melemparkan jari tengahnya ke arah lelaki berjaket jins. Oleh karenanya, aku betah berdiri berlama-lama di sini. Dua jam berlalu, baru satu pengendara yang berhasil membeli kantong plastiknya. Dia menjual, bukan mengemis. Seperti biasa, aku berdiri di tempat ini, di dekat tiang nama jalan yang bertuliskan Jalan Merdeka Raya. Beberapa di antara mereka malah lebih menakutkan daripada hantu-hantu yang bergentayangan di rumah-rumah tua. Siapalah aku, aku hanyalah tiang listrik yang mengadu nasib di jalan raya.,,,,,,,,,, Anak laki-laki itu mengangguk saja. “Beli ini, Pak, beli ini, Bu,” kata anak laki-laki itu. Meskipun hujan membuatku gigil, atau panas yang datang tak tanggung-tanggung. Mereka mengeluarkan beberapa barang berupa bubuk yang lumayan kecil, menghirupnya sedikit, lalu tertawa-tawa.




















