Ini adalah sebuah kisah nyata perjuangan seorang wanita yang berprofesi sebagai guru yang rela berkorban demi kemajuan anak didiknya. Bulan ketiga, setiap murid mempunyai buku masing masing. Bokepindo Ketika dia berangkat ke kota, ayahnya tersenyum bangga akan tetapi kepala sekolah menangis sedih akan pilihan yang Xia lakukan.Di dalam glamor kehidupan kota, Xia tidak senang sama sekali dia menderita, dalam benak pikirannya, hanya ada sebuah kelas yang hancur dan keprihatian dan kesedihan dan kekecewaan expressi dari murid-muridnyaXia masuk ke buat salon, berbaring di ranjang yang kotor dan menderita kerja kotor yang kedua di dunia percabulan. Setiba nya di kantor, sang walikota menyambut kedatangan Xia dengan sepasang mata pemburu yang haus akan Xia dan mununjukan tangannya ke sebuah ruangan dan mengatakan“Uang kamu ada di kamar tersebut. Ketika Xia mengetahui bahwa harapan murid muridnya telah hilang bagaikan asap. Akan tetapi kala ada hujan yang deras, kelas tersebut tetap tidak bisa di gunakan.Xia mengatakan kepada murid muridnya bahwa walikota akan membangun sebuah sekolah yang bagus buat




















