Kulirik jam tanganku, masih jam 11. Bokep Mom Mbak Titis semakin mendesis tidak karuan. Badannya terus terguncang-guncang menerima sodokan penisku. Aku jawab aja udah. Aku diam saja karena tidak tau harus ngomong apa. Aku ulurkan tanganku untuk meraih kepalanya mencoba membelai rambutnya. Jembutnya lebat sekali dan baunya wangi. Tinggi kira-kira 170cm, berat 50kg. Kagetku berangsur pulih, aku mengangguk sambil berusaha menenangkan diri. “Iya, Mas. Setelah ketemu, kuloloskan talinya pelan. Rasanya geli banget. Aku sudah tidak tahan lagi. Hidungku nyaris bersentuhan dengan hidung Mbak Titis. Bener-bener sesuai ama yang kuharapkan. “Iya, Bu” jawabku lagi. Kuarahkan perhatianku lagi ke bawah. Indah banget. Tanganku kubiarkan bebas menggantung. Akhirnya, aku mengeluarkan senjataku yang terakhir. Pemandangan ini yang selalu kutunggu. “Hehehe… panas banget nih… AC ruang produksi lagi macet”, jawabku sambil pura-pura membereskan mik. Aku membayangkan apa kira2 warna puting payudaranya. “Mas, nanti malam jangan lupa matiin pemancarnya ya.”, pesan Pak Damian padaku. Spontan kuremas tetek Mbak Titis. “Oh… Ya udah mas.




















