Ia berdiri di depan ranjang, dengan mata yang menatap tajam pada Luzia.“Kau!” Luzia memberontak, ia benar-benar ingin menghabisi pria di depannya dan membuat pria itu menjadi budaknya. Kau ingin membunuhku!” ujar Luzia dengan napas terengah, pergelangan tangannya terasa sangat perih. Bokeb Tangannya meraba bagian paha, dan bermain dengan usil di sana.“Hm ” desah Luzia tertahan, ia menutup matanya. Pria itu menjambak rambut Luzia, lalu memaju mundurkan kepala wanita itu dengan teratur.Luzia yang mendapat perlakuan demikian tak bisa melawan, ia mengulum kejantanan Rysh dan memanjakan benda tumpul yang akan memuaskannya. Luzia masih menikmati permainan bibirnya dan Rysh, ia menukar ludah dan menggigit pelan bagian bawah bibir Rysh. Dengan sekuat tenaga, Luzia menarik tangannya, ia sampai menangis dan tangannya terasa sakit. Disaat dirinya terbuai, Rysh melepaskan pasungan pada tangannya. Suara erangan Luzia terdengar begitu lirih, menggoda dan menjadi semangat untuk Rysh melakukan lebih. Darah menetes dari luka di tangannya, sprei putih sudah ternoda dan mengeluarkan bau amis.“Bajingan!” maki Luzia, “BAJINGAN!” teriaknya lagi.




















