“Aduuhh.. “Crrott… croot.. Bokeb Soalnya kotanya kecil.” kataku. Ida hanya memandangiku sambil tersenyum geli.Kemudian kucoba lagi mengarahkan penisku, lalu menekannya pelan tapi pasti, ternyata berhasil. Kata orang sih aku emang tidak terlalu ganteng, tapi manis. Aku langsung salah tingkah, apalagi penisku sudah mulai mengeras. Aku pengen ke kotamu. Kubasuh tubuh mulus Ida dan kusabuni dia dari atas sampai ujung kaki. Ciumannya tidak kalah dahsyat dengan ciumanku sambil memelukku dengan erat. sshhsh… yang daallaamm… Doll..!”
Kemudian langsung kutekan dengan sekuat tenaga, sehingga penisku ini masuk dan seperti menembus sesuatu, “Bless…”
“Aduhh.. Lalu kami pun mandi bersama. “Huu, dasar ini si Doll. Ketika ditanya, ternyata dia ingin ikut kami pergi ke kota kelahiran kami. Crott… serr..!” sekitar 6 atau 7 kali lahar panas membasahi liang vagina milik Ida, sampai ada yang meleleh keluar vagina yang tidak mampu menahan seluruh air maniku. Pantatnya sesekali bergerak ke kiri dan ke kanan sehingga penisku seperti terpelintir rasanya.




















