Aku terus memandanginya dengan berbagai perasaan berkecamuk di dalam dada. Bahkan seakan dia sudah lama mengenalku. Bokepindo Sebenarnya aku tidak biasa pulang sampai larut malam begini. Wajahnya cantik, Tubuhnya juga padat dan sintal, kulitnya kuning langsat. Dan dia juga tidak menolak ketika aku membawanya masuk ke sebuah kamar yang telah kupesan.Jari-jariku langsung bergerak aktif menelusuri setiap lekuk tubuhnya. Bahkan dia melipat pahanya yang indah untuk menutupi keindahan pagar ayunya.“Jangan, Omm…”, desah Salsa tertahan, ketika aku mencoba untuk membuka kembali lipatan pahanya.“Kenapa?” tanyaku sambil menciumi bagian belakang telinganya.“Aku…, hmm, aku…” Salsa tidak bisa meneruskan kata-katanya. Tapi itu semua sudah terjadi. Aku hanya memandanginya saja sambil menikmati minuman ringan, dan mendengarkan lagu-lagu yang dilantunkan pengunjung secara bergantian. Dia melangkah gontai ke kamar mandi. Pertemuan kedua ini sudah tidak membuatku canggung lagi. Dan aku memperkirakan umurnya tidak lebih dari delapan belas tahun.Aku ingin mendekatinya, tapi ada keraguan dalam hati.




















