Aku menyumpah-nyumpah. Perlahan kutekan dadanya, tetap tidak ada reaksi. Bokep Colmek Pikiranku mendadak kosong, ketika punggungku menyentuh dadanya. Sehingga waktunya cukup banyak untuk membaca. Membolak-baliknya. Saat mataku melihat lemari Kak Tina yang terbuka (biasanya selalu dikunci), aku tergerak untuk mencari novel yang disembunyikannya. Mukanya yang sedikit hitam bertambah gelap. Kami tak pernah bersetubuh. Otakku terbakar! Kelihatannya bagus. “Mimpi basah?”. Memandanginya. “Capek, Kamu makin lama tambah berat. Sulit ya membacanya?”
Memang kami duduk berdampingan, dengan buku dipegang Kak Tina. Aku semakin takjub. Aku terbangun, tak tahunya tanganku ada di atas dada Kak Tina, sedang tangannya menimpa tanganku itu. aah, aku semakin deg-degkan. Di atas tempat tidur, Kak Tina sedang mengenakan baju kaos warna jingga. Tapi aku cukup puas.Sekali waktu, dengan berpura mengigau, aku merangkak di atas tubuhnya. Akupun makan. Dalam tidur aku bermimpi. Sudah bisa dapat anak”. Entah ide dari mana, pelan-pelan tanganku menyentuh dadanya. Naluriku menyuruhku untuk menekan punggungku ke dadanya.




















