Aku tidak berani menatap wajahnya. Vidio Porno Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Wanita muda itu mengikuti di belakang. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.“Bang, Bang kiri Bang..!”
Semua penumpang menoleh ke arahku. Aku pertegas bahwa aku mengendus kuat-kuat aroma itu. Aku terpejam menahan air mani yang sudah di ujung. Wanita muda itu sudah keluar sejak melempar celana pijit. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Sekali. Haruskah kujawab sapaan itu? Masih menutupi diri dengan tabloid. Kerjaan yang menumpuk sama merangsangnya dengan seorang wanita dewasa yang keringatan di lehernya, yang aroma tubuhnya tercium. Pasti terburu-buru. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon. Sampai ia selesai mengelap bagian belakang pahaku dan berdiri. Mbak Wien sudah turun. Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat.




















