Mendadak jari tanganku dingin semua.Wajahku merah padam. Bokep Thailand Eh bisa juga wanita setengah baya ini ramah kepadaku.Lalu ia membersihkan pahaku sebelah kiri, ke pangkal paha. Aku duduk di belakang, tempat favorit. Jendela kubuka. Aku masih mematung. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Aku tertipu. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun. Aku tertipu. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku.Seakan sengaja memainkan Si Junior. Kemudian menyerahkan celana pantai.“Mbak Hawin, pasien menunggu,” katanya.Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Yes. Sekali. Hawin datang. Ia tersenyum. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.“Telentang..!” katanya.Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Lalu ia memijat lutut. Masih menutupi diri dengan tabloid. Angin menerobos kencang hingga seseorang yang membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.“Mas Tut..” hah..? Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring. Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat.




















