Ke bawah lagi: Tidak. Bokep China Badannya berbalik lalu melangkah. Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh.Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon.Ia kerja di sana? Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Sudah tiga tahun, benda ini tak kurasakan Sayang. Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga bisa. Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..!”Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Aku bisa dapatkan ia, wanita setengah baya yang meleleh keringatnya di angkot karena kepanasan. Aku mengurungkan niatku. “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Wajahku mulai panas.




















