ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Alamak.., jauhnya. Bokep China Aku tidak berpakaian kini. Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja.Badannya berbalik lalu melangkah. Ketika Si Junior melemah ia seperti tahubagaimana menghidupkannya, memijat tepat di bagianpangkal paha. Ah sial. Wanita setengah baya itu merenggangkanbibirnya, ia terengahengah, ia menikmati dengan mataterpejam.Mbak Wien telepon.., suara wanita muda dari ruangsebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawabtelepon.Ngapaian sih di situ..? kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Ayo..!Mbak.., pahaku masih sakit nih..! Dadaku tibatiba berdegupdegup.Bang, Bang kiri Bang..!Semua penumpang menoleh ke arahku. Namun, tibatibakeberanianku hilang. Hariitu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belumada yang datang, baru aku saja. Bibirku melumat bibirnya.Jangan di sini Sayang..! Iamenyenggol kepala juniorku. Makin lama suarasepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletakpelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara ituhilang.Aku hanya mendengus. Aku masih penasaran, iaseperti tanpa ekspresi. Hariitu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belumada yang datang, baru aku saja.




















