“Sudah ini jangan lagi Ermita, nanti kamu mabuk.”“Rasanya sekarang Mita memang agak pusing Om, apa mabuk ya?”“Kamu minum hampir empat sloki, kalau Om masih belum apa-apa. Bokeb Kulihat wajahnya meringis mungkin terangsang atau mungkin oleh sebab lain, aku tak begitu peduli. Lalu lehernya kembali kusosor dan kujilat, lalu hidung dan mulutku kembali ke celah diantara buah dadanya, kedua ketiak di bawah lengannya, lalu putingnya kugigit dan kuremas gundukan itu lagi dengan kedua tanganku. Cocacola kaleng, gelas dengan air es, dan kutuang anggur manis Malaga kedalam sloki cantik. Kami menikah dengan upacara sederhana yang hanya dihadiri beberapa orang termasuk ibu dan adik-adiknya. Kedua tangannya dipanggulku. Wajah Ermita kini terlihat cerah dan segar, tidak lagi kuyu dan letih seperti tadi. Rambutnya sudah dipotong, dikurangi jadi lebih pendek sampai bahu sehingga tampak lebih rapi. Lama.“Om.”“Ya?” Aku tetap memusatkan perhatian ke jalan yang penuh kendaraan lain.“Berapa … berapa … om mau membayar kalau aku … kalau aku ..




















