Damar tersenyum.“Aqu akan menunggu di mobil, Kirana…”Perlahan Kirana bangkit, masih menggelenyar karena sensasi itu, wajahnya memerah, lututnya lemah, kemaluannya berdenyut dan bocor.“Mmm, baiklah Bapak.”Dia memutuskan untuk melaqukan “tradisinya” dan dan mengorek air mani Bapak Franky dari pahanya dgn jari tangan kirinya yg dilingkari oleh cincin permata pemberian Franky.Saat Damar melihat mempelai perempuan putranya masuk ke dalem mobil, telah rapi dan bersih, terlihat segar serta berbinar wajahnya dan siap untuk upacara perkawinan, sedangkan baygannya yg terpantul dari kaca mobil adalah saat Kirana memandang tepat di matanya dan menjilat air maninya dari cincin permata pemberian putranya…,,,,,,,,,,,,,,,,, Kirana tersenyum.“Tapi Bapak, bukankah ini tak layak dilaqukan oleh seorang Bapak calon pengantin pria?”Damar memandangi bagaimana bibir Kirana yg membuka saat bicara, mendengarkan hembusan hangat napas, seiring dgn tangannya yg meremasi payudaranya dalem balutan bra.




















