Sava tersenyum menyambutku datang lalu memberi isyarat dengan tangannya agar aku duduk di sampingnya.“Buat apa sih kamu bikinin aku teh anget ?” aku sedikit ketus.“Biar anget, kan kita abis ke hujanan,” Sava sedikit sewot, memajukan bibirnya yang menggemaskan, “gak pake nyolot juga kali nanyanya… huh.”“Lah gimana gak nyolot coba, aku tuh gak butuh teh ataupun apalah-apalah untuk sekedar menghangatkanku. Bokep Montok Aku benar-benar kacau, aku menghantam-hantamkan tinjuku pada lantai rumah sakit. Buru-buru aku mengambilkan air untuknya.Setelah beberapa saat, dia mulai dapat mengendalikan dirinya, lalu menatapku yang masih dalam keadaan tanpa busana. Hanya senyap dan pekat yang tersisa. Dia masih mempunyai impian yang belum terwujud, dia harus menggapai mimpinya. Tapi kami tetap berjalan, terus berjalan hingga kami sampai pada rumah Sava.“Hei Qora, masih aja payungan pake daun pisang,” ah aku baru sadar kami sudah berada di dalam rumah Sava. Pokoknya aku harus meraih impianku Qora, harus…haruss….haruss,” huh kebiasaan Sava kalau sudah begini, dengan semangatnya dia nyerocos tanpa henti.“Apa sih yang enggak buat permaisuriku yang




















