Kita tangkap basah,” kata salah seorang orangtua itu. Aku juga memeluknya. Bokepindo Sutinah pun tersenyum dan bangga. Punggungnya menyender ke dadaku. “Apa kamu mau?” tanya ibu. Makan obat harus terus diawasi dan dipaksa, jika ayah menolak. Aku mengangguk. “Aduh gusti, kamu ini….!!!” Aku tak perduli. Tak lama Suti mengatakan nasi sudah siap dari tadi dan kami harus makan.Suti membuat nasi ke piringku dan ke piringnya bersama lauknya. Perlahan penisku naik. Ayah tau, kalau ibu ke laut , aku yang menemani. Aku mengajak Sutinah mandi ke pancuran. Secepatnya jika angin kencang, 45 menit. Aku tersenyu kecil. “Terus mas… enak….” katanya. Ibu melakukannya. Aku terus memeluknya dan menempelkan kontolku ke tempiknya. AKu hanya memeluknya dan mengcup pipinya dengan sejuta sayang. Pertama Amir, kedua orangtuanya, ayahku dan terakhir aku. Setelah seminggu ayah di rumah, ternyata aku dan adikku Suti, sudah tak tahan lagi.




















