“Ikuti saja iramanya,” ia berbisik lagi. Bokep Cina “Ahhh,” ia mendesah saat kulakukan itu. “Aku..,” desahku lagi. Tak heran, ini sudah pukul setengah satu pagi, dan menjelang hari raya, nyaris semua orang pergi berlibur. Katanya, “Mungkin. “Arrrgghh.” Aku sudah gelap mata. Rasa lemon bercampur aroma wewangiannya. Ia tertawa kecil saat kugigit kulit dadanya. Ia masih menatapku tanpa berkata apapun. Tepat sebelum aku terlelap, kubisikkan sebuah pertanyaan padanya. “Maaf,” kataku, “aku tak bermaksud…”
“Kamu masih perjaka,” bisiknya memotong sambil tersenyum. Katanya, “Help me?”
“Ahh,” desahku, lalu mengulurkan kedua lenganku, menyusupkannya ke balik pinggulnya, berusaha mencari pengait span yang ia kenakan. Yang ada hanyalah gambaran sebuah kebekuan. “Jangan hentikan aku,” desisku. Sedikit berdebar kemudian, saat ia merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Aku tertawa melihatnya. Tuduhan semacam itu tidak kusukai. “Jangan,” bisiknya sambil tersenyum. Beberapa jam yang lalu aku masih melihat tawa di wajahnya, senyumnya. Hey, seleramu lembut juga. Ia menjauhkan sedikit bibirnya dan mendesah, lalu kembali memagutku. Kulebarkan pahanya, dan sambil memegang batang kemaluanku dengan satu tangan, kutekan










