Bias kucium harum tubuhnya.“Saya bisa kasih mbak lilin lagi kalau mau,” jawabku, aku bersiap bangkit dari kursiku.“Nggak usah,” Mbak Marisa menahanku. Tiba-tiba dari arah pintu bagian belakang hadir satu sosok. Bokep Colmek Mbak Marisa berdiri di sana.Ia pasti masuk lewat pintu terobosan di belakang yang tidak terkunci..“Punya lilin?” tanyanya. Bawa aku ke kamarmu segera!” desah Mbak Marissa.Aku tak segera bergerak. Pintu terobosan itu terbuka lagi. Tiba-tiba dari arah pintu bagian belakang hadir satu sosok. Sering diam-diam aku menatapnya dari kejauhan manakala ia bekerja di taman kecil kebun di depan rumahnya. Ia bicara dekat sekali di depanku. Putting dan bundaran empuk di dada Mbak Marissa seperti memberi jalan dan megajariku untuk mengulum-ngulum dan memutar-mutarnya agar pemiliknya mendapatkan nikmat yang istimewa. Aku berseru senang dalam hati manakala kutahu ia adalah tetangga baruku.Satu-dua hari pertama tak terlihat perempuan itu di luar rumah. Dan tiba-tiba rumah jadi gelap gulita. Ia memberikan foto kopi KTP dan kartu keluarga kepada ayahku.




















