“Panas..badanku terasa panas..Erik..” pikirku dalam hati. Bokep Colmek Nafasnya terdengar berat penuh dengan kemarahan dan birahi. Tapi, aku tidak bergerak sedikit pun. Tepat jam 10.30 malam, aku mendengar suara pintu di sebelah kamarku berbunyi. “Anak bodoh.. “Eriik!! Kenapa katamu?! “Ahh..!!” nafasku makin memburu.Tiba-tiba Erik berhenti dan melihatku sambil tersenyum misterius. Diam-diam, aku kagum dengan penampilan Erik dan Tomi yang sangat menarik. Yayasan Bunda Erika, aku membacanya di sebuah papan nama di depan pintu masuk bangunan itu. Teriakan kepuasan dari wanita itu pun membahana di seluruh ruangan. Kamu tidak harus memanggil aku ‘ayah’ atau sebutan lainnya, panggil saja aku Erik.”
Sambil mengalihkan pandangannya ke temannya, dia melanjutkan,”Nah.., ini adalah temanku, namanya Tomi.”
Akupun menyunggingkan senyuman ke arah Tomi yang membalasku dengan senyuman hangat.Aku sama sekali tidak percaya bahwa ternyata Erik tinggal sendirian di rumah megah seperti ini dan masih berusia 24 tahun saat itu. Ya kan, setan cilik?”
Mukaku bersemu merah, tapi terlalu takut untuk berbicara, tubuhku bergetar hebat.




















