Akhirnya aku menggeram, menggerendeng bagai banteng menahan amarah, “Niaaa.., auucchh.. Rasa geli yang minta digaruk. Bokeb berputar-putar di sana dua-tiga kali ..“Aaacchh..,” erangan Tania semakin jelas. man has to know his limit..”, jawabku meyakinkannya.Tiba-tiba HP si manajer itu berdering, dan ia menjawabnya dengan nada bicara yang pendek-pendek tanpa semangat. turun sampai melesak sedikit memasuki liang surgawi yang berdenyut-denyut.. Nia memang harus mandi, tetapi alasan gerah tidaklah masuk akal, karena malam itu suhu udara dingin sekali. Sayang, Mas sedang menjepitnya dengan bibir Mas, lalu lidah Mas menyapu-nyapu lubang di ujung putingnya.. Ia bahkan masih terus mengerang dengan suara pelan. menghentak.. Ke bagian-bagian yang tersembunyi, yang terjepit, yang berlekuk-berliku. Sejenak aku ingin menghubungi Tania melalui paging telephone, siapa tahu ia belum pulang saat ini, tetapi niatku itu aku urungkan. sekarang..”, Nia tidak kuasa meneruskan kata-katanya.“Iya.. Tangannya menggenggam erat tanganku seolah Tania tidak ingin melepaskanku. Ahh.. Aku tak tahan lagi, aku menggerendeng merasakan tubuhku seperti hendak meledak.. Jemari dan bibiriku seperti penuh oleh energi pembakar




















