Sampai suatu hari. “Cuek. Link Bokep Karena kami sama gilanya, jadi asyik. Bibir bawahnya digigit-gigitnya dengan giginya. Ngapain luh?” tiba-tiba kudengar suara Mimi menegurku. Kepala kontolnya yang kemerahan seperti jamur melewati pusarnya. Biasalah, ngabis-ngabisin duit Mama. Batangnya gemuk, segemuk botol coca cola yang sedang dipegangnya. Sampai suatu hari. Ia menggelinjang-gelinjang sambil merem melek menikmati hajaran kontol Willy yang luar biasa itu di memeknya. Padahal sebab perceraian kedua orangtuaku itu adalah jelas-jelas karena kesalahan Mama. Menghentak-hentak. “Habisnya si Willy itu ganteng banget sih. Aku dan Toni pernah bawa perek ke rumah. “Yap,” sahut Willy singkat. Dasar nekat si Mimi. Iya,” sahutku sambil mengangguk. Dasar nakal. Gila aja. Mama enggak bakalan bangun. Dasar gigolo profesional dia. Ambil penggarisan deh, liat dari titik senti sampai 28 senti, panjang banget kan ukuran segitu. Termasuk saat bercerai dengan Papa. Bisa berabe nih. Karena itu aku dan adik-adikku tak pernah protes dengan apapun yang dikerjakan oleh Mamaku.




















