Adakah yang lebih tabah dari aku? Bokepindo Anak itu kembali menyodorkan jualannya, tapi kini cara berdirinya kurang stabil. Astaga. Tapi seperti yang aku katakan, aku tetap bertahan pada tempatku berdiri. Malam itu tidak hujan tapi bau aspal basah karena hujan tadi sore masih menguar. “Woi!” teriak salah satu anak dari gerombolan itu dengan kasar. Siapalah aku, aku hanyalah tiang listrik yang mengadu nasib di jalan raya.,,,,,,,,,, Aku tetap bertahan di tempatku berdiri, tetap menyaksikan anak laki-laki penjual kantong plastik di dekat tiang lampu merah yang juga masih berjualan. Aku tahu anak itu pasti bekerja di malam begini karena suatu keperluan yang mendesak, atau itu memang pekerjaannya demi membantu biaya sekolah. Dia menjual, bukan mengemis. Aku yakin sekali, orang tuanya sudah berhasil mendidiknya dengan ajaran agama. Dia punya usaha untuk hidup. “Sudah dapat banyak?”
“Belum. “Terima kasih banyak, Pak. Di dekat semak-semak, tak terlalu jauh dari tepi jalan, di tempat yang agak gelap.




















