Di awal berdirinya perusahaan hanya membutuhkan sepuluh karyawan, satu diantaranya seorang laki-laki. Bokeb ttt… nnni.. Aku tidak perduli, aroma parfum dan dan bau keringat sudah bercampur jadi satu. Mobil kijang yang kami pakai aku belokkan masuk ke halaman parkir losmen, untuk itu perusahaan mempercayakan aku membawa salah satu dari beberapa mobil terbaiknya.“Mas satu kamar saja,” kata Dita kepadaku ketika kami hendak keluar dari mobil.“Kenapa?” Seraya aku melirik kearahnya, tampak dia tersenyum sambil menyibak rambutnya yang tergerai.“Biar ngirit, uang kamarnya bisa aku belikan obat untuk suamiku.”“Oke, baiklah kalau begitu istri yang baik.”“Ah, jangan begitu dong,” sambil mencubit pahaku.“Eit, jangan ketengah-tengah lho,” aku menggoda. Karyawan laki-laki aku kirim ke luar kota untuk merintis bagi masuknya order baru. Ketika aku menoleh kearah kamar mandi, ternyata pintunya tidak ditutup selang beberapa saat kemudian terdengar dia memanggilku,“Mas” Berlahan aku beranjak kearah suara dari dalam kamar mandi, ‘DEG..!’ jantungku serasa mau meloncat ketika aku sampai di pintu tampak Dita hannya mengenakan beha dan celana dalam berwarna merah saja.Mataku




















