Malam itu, jantungku berdetak 3 kali lebih kencang dari biasanya. Bokep Thailand Serta merta, akTVitasku kuhentikan sebagai bentuk protes atas perlakuan yang telah kuterima. Aku tersenyum kecut, penuh rasa takut campur malu, saat suara nenek menggelegar memecahkan keheningan suasana. Tentu saja aku jadi bingung melihat ia membisu seribu bahasa. Aman. Tapi kali ini, aku tak mau terjebak ke dalam rutinitas menjemukan seperti yang sudah ku lihat sebelumnya, sebab yang bikin dag dig dug sebenarnya tak lebih karena rasa keinginan tahuan belaka. Tentu saja maksud penjemputanku adalah untuk diajak serta oleh Nenek pergi menemaninya ke Semarang. Aku tak tahu persis apa yang mereka perbincangkan, tetapi ini adalah kesempatan bagiku, untuk segera mengakhiri rasa sakit di selangkanganku yang terjepit oleh kain celana pendekku sendiri. Benar-benar sebuah perjuangan yang layak di kenang! Perlahan namun pasti, sang waktu pun berpihak kepadaku.




















