Vaginaku mencengkram penis itu sejadi-jadinya, sementara tuanku membenamkan lagi sekuat-kuatnya, sampai aku tertekan ke ranjang.Ia mengejang-ngejang, aku merasakan denyutan- denyutan kuat. Bokeb Walau aku hanya budak. “Kok sekarang jadi terus menerus manggil tuan…?” Aku tertunduk.Terdiam. Hatiku makin muram…Setelah membereskan kamar, aku mulai membersihkan rumah. Menatap matanya, lelaki yg telah mendapatkan seluruh hati dan tubuhku.“Tuan kan hanya liburan. Seketika aku seperti disetrum, tubuhku mengejang, tapi aku menahan diri dari bergerak atau bersuara. Masih belum bersih. Kak Edo menuang lagi. “Duduk di atas meja.” Meja itu dari kayu mahoni, besar dan kuat.Jadi tanpa ragu aku membereskan apa yg ada, kecuali secangkir kopi dan semangkuk telur setengah matang itu. Aku mencucurkan air mata. Mereka juga… pasti punya harapan untuk tuan, untuk… Kak Edo. Di tubuhku. Rasanya kembali mengikat, mendorong, memelintir, merobek penahan, menghilangkan pembatas… Aku menari-nari dengan penis menancap di vaginaku.




















