Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Bokep Montok Oh.., aku hanya dapat menunduk, melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari di ruangan sempit itu. Wien datang. Kring..!“Mbak Wien, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Kini ia pindah ke paha, agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Ke bawah: Tidak. Ia menyenggol kepala juniorku. Bicara apa? Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Aku harus memulai. Suara itu lagi. Ayo..!“Mbak.., pahaku masih sakit nih..!” kataku memelas, ya sebagai alasan juga mengapa aku masih bertahan duduk di tepi dipan.Ia berjongkok mengambil sapu tangan. Ke bawah lagi: Tidak. Lalu pindah ke pangkal paha. Sekali. Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya. Kaki kusandarkan di tembok yang membuat ia bebas berlama-lama membersihkan bagian belakang pahaku. Wajahku mulai panas. Ah.., selangkanganku disentuh lagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.Ia berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskan




















