Dia menjajakan kantong-kantong plastik hitam itu ke setiap pengendara yang singgah karena lampu merah. Bokeb Aku tidak menyalahkan pengemis-pengemis yang mencari rezeki dengan mengemis, tapi sekali lagi, aku lebih kagum pada anak itu. Aku tidak tahu tapi aku teramat jengkel dengan diriku sendiri. Mereka kemudian pergi ke tempat yang dituju. Anak laki-laki yang berjualan itu malah tersenyum. Dia benar-benat ulet. Itu cuma dugaanku. Tapi seperti yang aku katakan, aku tetap bertahan pada tempatku berdiri. Pernah suatu malam, aku melihat kejadian paling miris yang membuat aku sempat berdoa agar segera dicabut Tuhan. Siapalah aku, aku hanyalah tiang listrik yang mengadu nasib di jalan raya.,,,,,,,,,, Tidak cukup lama, orang-orang sudah berkerumun ke arah anak itu. Dia menjual, bukan mengemis. Sedikit-sedikit oleng ke kiri, atau oleng ke kanan. Polos sekali. Adakah yang lebih tabah dari aku? Aku tidak mempermasalahkan orang-orang yang sering berjalan dengan lagak, atau orang yang kadang singgah mengencingiku, atau ketika aku jadi bahan lelucon karena sebuah mobil milik pejabat menabrakku.




















