” katanya. ketika aku mengikuti dia tersenyum, menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon. Bokep Montok ” kataku. Aku masih termangu. Aku menurut saja. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Come on lets go! Sudahlah. Oh.., aku hanya dapat menunduk, melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari di ruangan sempit itu. Ya nggak apa-apa, ” katanya menjawab telepon. Apakah perlu menhitung kancing. ”
“ Massage, boleh. “ Siapa Mbak..? Kuusap sisa cream. Dia tidak membalas tapi lebih ramah. Payudara itu dari jarak yang cukup dekat jelas membayang. Lihatlah dia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya. “ Ngapadian sih di situ..? “ Si Dila, yang tadi. ”Ya itulah kabar gembira, karena Fera lalu mengangguk. Ya, seseorang toh dapat saja lupa pada sesuatu, juga pada sapu tangan. Tetapi, bayangan itu terganggu. Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. “ Ini.., ” kutunjuk pangkal selangkanganku. Namun, tiba-tiba keberandianku hilang. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis.




















