Baru saja aq memasang ikat pinggang, Iin menghampiriku sambil berkata,Telepon aq ya..!Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yg disobek sekenanya. Bokeb ujar suara wanita muda yg kemarin menuntunku menuju ruang pijat. Ayo..!Aq masih diam saja. Lalu pijitan turun ke bawah. Aq mengikutinya. Tetapi eh.., diamdiam ia mencuri pandang ke arah penisku. Di balik kain tipis, celana pantai ini ia sebetulnya bisa melihat arah turun naik Si Penis. Masak tdk ada yg bisa dibicarakan. Masih sepi ini..! Tdk akan hadir kesempatan ketiga. Sekali. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aq turun. Aq dipermainkan seperti anak bayi.Selesai dipijat ia tdk meninggalkan aq. Dadaku mulai berdegup lagi. Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Astaga. Kring..! Pasti terburuburu. Kaki kusandarkan di tembok yg membuat ia bebas berlamalama membersihkan bagian belakang pahaku.




















