Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat.Bau tubuhnya tercium. Bokep SMA Ke bawah lagi: Tidak. Masih menutupi diri dengan tabloid. Sekarang sudah lebih lancar. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Lalu ia memijat lutut. Ada cairan putih di celana dalamku.Di kantor, aku masih terbayang-bayang wanita yang di lehernya ada keringat. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.“Bang, Bang kiri Bang..!”Semua penumpang menoleh ke arahku. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas.Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja. Aku tidak dapat lagi memandanginya.Kantorku sudah terlewat. Mbak Hawin sudah turun. Ah masa bodo. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Baru saja aku memasang ikat pinggang, Hawin menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. Ia menyenggol kepala juniorku. Nampak ada perubahan besar pada Hawin. Tidak terlalu ayu. Ini gara-gara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti.




















