Dia memacu, akupun tak dapat menahan kenikmatan yang sudah memuncak diubun-ubun kepalaku. tanya pembatuku.“Tadi malam.” jawabku singkat.“Wach bapak pulang kantor suka malam sich, Bu Lastri kalau siang atau sore kira-kira jam lima suka ngobrol disini dengan saya lho.” jawab pembantuku lagi.Och ternyata Bu Lastri suka ambil air ledeng dari kantorku, untuk air termos diwarungnya. Bokeb Langsung tanpa diberi komando Bu Lastri memacu diriku seperti kuda liar, terus dia menggoyangkan pinggulnya maju mundur. Och.. Aku urut betis Bu Lastri lalu pelan-pelan pijitanku aku naikkan hingga pahanya. Dia ternyata hanya diam saja. Dan memang benar Bu Lastri datang menyambut.“Kenapa Mas pinggangnya”“Enggak tahu nich, tadi pagi bangun tidur langsung pinggang saya terasa mau patah.”“Mau ibu pijitin” tantangnya. Memang seperti kebiasaan Bu Lastri hanya memakai baju daster bercorak kembang hingga batas dengkulnya. Kesempatan nich, aku tidak buang-buang waktu lagi, aku turunkan celana dalam Bu Lastri hingga batas dengkulnya, lalu aku masukan tangan kananku ke dalam celah kedua belah pahanya, sambil memasukan jari tengahku ke dalam lubang




















