Aq masih mematung. Bokep Montok Aq berhasil.“Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagian tepi celana dalam. Sekarang sudah lebih lancar. Aq menurut saja. Tdk akan hadir kesempatan ketiga. Pokoknya turun.“Kiri Bang..!”Aq lalu menuju salon. Paling tdk ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.“Mbak Iin..,” gumamku dalam hati.Perlu tdk ya kutegur? Aq terlambat setengah jam. Agar kejadian kemarin terulang. Iin datang. Aq memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Kini pindah ke paha sebelah kanan. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.“Bang, Bang kiri Bang..!”Semua penumpang menoleh ke arahku. Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu,” kata Iin.Setelah beberapa lama menyodoknya,“Terus dong Yg. Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.“Balik badannya..!” pintanya.Aq membalikkan badanku. Aq langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Bibirku melumat bibirnya.“Jangan di sini Sayang..!” katanya manja lalu melepaskan sergapanku.




















