Rumah Felly?Belum habis keherananku, tiba-tiba ada ketukan di kaca jendelaku. Bokep Cina “He eh.”
“Tunggu di sini sebentar.” Ia berkata itu lalu berjalan menuju kawan-kawannya. Aku duduk. Memang ini hari sialku.Apa tidak ada yang bisa bikin aku lebih sial lagi? Selalu saja kami gagal bubaran kalau kami saling bertemu. Kami keluar di jalan Sunda terus menuju Thamrin. Setelah ia merapihkan celanaku, ia membereskan pakaiannya sendiri yang berantakan. Kangen? Terus terang untuk berdiri pun aku sulit saat itu. Entah apa kurangnya gadis cantik ini hingga aku menyia-nyiakannya. “Duduklah dulu, kopimu sedang dibuatkan.”
Masih pura-pura lesu, aku kembali ke tempat duduk asalku.“Kamu kenapa lagi Rick?” Felly bertanya dengan lembut. Dengan mengenakan daster pendek jauh di atas lutut model tank top. Ia mengerang kenikmatan. Buat mereka life style seperti ini murah bukan main. Lima menit aku terbengong-bengong sendiri. “Pak Ricky, telepon dari Felly,” Indri, sekretarisku di interkom. Ternyata..?Tidak ada yang jelek dari Felly. Hanya beberapa kalimat “Black Label double” pernah kuucapkan sebagai komunikasi nyata antara aku dengannya.Malam itu




















