Aku pun merasakan nikmat yang luar biasa. Bokeb Beberapa kali aku meninggalkan mereka untuk mengejar sumber berita. Aku mengambil rokok dari saku depan kemejaku, menyalakannya. “Terima kasih, Mas Joe.”
“Untuk apa?”
“Karena telah mau menemani Mikha.”
Aku hanya diam. Namun hanya seperempat dari panjang kemaluanku saja kulihat yang berhasil terbenam dalam mulutnya. “Mas, Mas wartawan ya?” katanya kepadaku. Tanpa sadar aku raih wajahnya, dengan sangat perlahan-lahan kudekatkan wajahku ke wajahnya, aku cium bibirnya, lalu aku tarik lagi wajahku agak menjauh. Sama saja kejadian waktu meliput demontrasi mahasiswa dulu. Yang pacaran, ya pacaran. “Emang mau?”. Aku merengut, hendak marah, tapi tak jadi, pahanya yang mulus terpampang di depanku, membuat gondokku hilang. Aku pun duduk dekat mereka, berbincang tentang pemilu kali ini. Lalu kami pun menuju mobilku. Politik? Tak lama kemudian aku tak tahan lagi, kugoyang pantatku lebih cepat lagi keatas kebawah dan, Tubuhku mengejang. Sampai ketemu.” Pamitku.




















